BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Setelah
dipanen bahan pangan secara fisiologi masih hidup. Proses hidup ini berlangsung
dengan menggunakan persediaan bahan bakar yang ada. Proses hidup ini perlu
dipertahankan, tetapi sebaiknya jangan dibiarkan berlangsung cepat. Kalau
produksi ini berjalan cepat, maka akan cepat pula bahan pangan tersebut mati
karena kehabisan bahan bakar dan terjadi kebusukan. Perlakuan yang berperan
penting dalam pengawetan makanan yaitu diantaranya pemanasan, pendinginan, pengeringan,
pengasapan, radiasi, atau pembubuhan bahan kimia, asam, gula, atau garam.
Mikroba
pada keadaan normal mengandung kira-kira 80% air. Air diperoleh dari makanan
tempat mereka tumbuh. Jika air dikeluarkan dari bahan pangan, maka air dari
dalam bakteri juga akan keluar dan bakteri tidak dapat berkembang biak.
Pengeringan bahan pangan ditujukan untuk melawan kebusukan oleh mikroba, tetapi
tidak dapat membunuh semua mikroba. Oleh karena itu, bahan pangan yang kering
biasanya tidak steril.
B. Tujuan
1. Mengetahui
kadar air dari beberapa produk pasca panen yang diperdagangkan dalam kondisi
kering
2. Membandingkan
kadar air antara produk segar dan produk kering dari spesies tanaman yang sama
3. Membandingkan
daya simpan antara produk kering dan segar dari spesies tanaman yang sama
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pengeringan
menurut Muchtadi (1997) adalah suatu cara untuk mengeluarkan atau menghilangkan
sebagian besar air dari suatu bahan dengan menggunakan energi panas, biasanya
kandungan air dikurangi sampai dengan batas tertentu dimana mikroba tidak dapat
tumbuh lagi pada bahan tersebut.
Proses
pengeringan merupakan proses perpindahan panas dari sebuah permukaan benda
sehingga kandungan air pada permukaan benda berkurang. Perpindahan panas dapat
terjadi karena adanya perbedaan temperatur yang signifikan antara dua
permukaan. Perbedaan temperatur ini ditimbulkan oleh adanya aliran udara panas
diatas permukaan benda yang akan dikeringkan yang mempunyai temperatur lebih
dingin (Mahadi, 2007).
Pengeringan
bahan pangan ditujukan untuk melawan kebusukan oleh mikroba, tetapi tidak dapat
membunuh semua mikroba, oleh karena itu bahan pangan yang kering biasanya tidak
steril. Meskipun bakteri itu dapat tumbuh pada bahan pangan kering, tetapi jika
bahan pangan tersebut dibasahkan kembali, misal dengan perendaman maka bakteri
akan cepat tumbuh kembali kecuali jika bahan pangan tersebut langsung dimakan
atau didinginkan (Heddy, 1994).
Mikroba
pada keadaan normal mengandung air kira-kira 80%. Air ini diperoleh dari
makanan tempat mereka tumbuh. Jika air dikeluarkan dari bahan pangan, maka air
dari dalam bakteri juga akan keluar dan bakteri tidak dapat berkembang biak.
Bakteri dan ragi umumnya membutuhkan kadar air yang lebih tinggi dari kapang,
oleh karena itu kapang sering dijumpai tumbuh pada makanan setengah kering
dimana bakteri dan ragi tidak dapat tumbuh, misalnya pada roti yang sudah basi.
Mikroorganisme
membutuhkan air untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya. Jika kadar air
pangan dikurangi, pertumbuhan mikroorganisme akan diperlambat. Dehidrasi akan
menurunkan tingkat aktivitas air (aw) yaitu jumlah air yang dapat
digunakan oleh mikroorganisme untuk pertumbuhan dan perkembangbiakannya), berat
dan volume pangan. Prinsip utama dari dehidrasi adalah penurunan kadar air
untuk mencegah aktivitas mikroorganisme.
Penyebab
utama kerusakan karena pertumbuhan dan aktivitas mikroba (bakteri, kapang,
khamir) serta aktivitas enzim di dalam bahan pangan. Mikroba di jumpai di
tanah, air, udara, ataupun kulit. Mikroba pembusuk dijumpai pada kulit bebuahan,
sesayuran, maupun bebijian.
Kebutuhan
mikroba akan air biasanya dinyatakan dalam istilah aw (Water
activity) yang mempunyai hubungan dengan kelembaban nisbi udara. Kelembaban
nisbi adalah perbandingan antara tekanan uap air di udara dengan tekanan uap
air jenuh pada suhu yang sama. Kelembaban nisbi menunjukkan keadaan atmosfer
disekeliling bahan atau larutan. Nilai aw menunjukkan keadaan dari
suatu larutan, yaitu perbandingan antara tekanan uap air larutan dengan tekanan
uap air murni pada suhu yang sama. Jadi air mempunyai aw 1,0. Pada
keadaan keseimbangan, aw akan seimbang dengan RH atau aw
sama dengan RH/100. Sebagaian besar bakteri membutuhkan aw 0,75-1,00
untuk tumbuh. Beberapa ragi dan kapang tumbuh lamabat pada aw 0,62
(Heddy, 1994).
Kerugian
pengeringan, yaitu:
a. Sifat
asal bahan yang dikeringkan berubah (bentuk dan penampakan fisik/kimia,
penurunan mutu)
b. Perlu
pekerjaan tambahan untuk menghindari hal-hal diatas (Rohanah, 2011).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat
1. Alat
pengukur kadar air
2. Kantung
plastik transparan 2 ons
3. Karet
gelang
4. Kertas
label
B. Bahan
1. Biji
jagung segar dan kering
2. Kacang
tanah segar dan kering
3. Gabah
segar dan kerin
C. Prosedur
Kerja
1. Disiapkan
produk pasca panen segar, yaitu kacang tanah, biji jagung, dan gabah
2. Diukur
kadar air dari produk pasca panen tersebut dengan alat ukur kadar air
3. Dibuat
perbandingan kadar airnya dengan grafik batang
4. Disiapkan
produk pasca panen segar dan kering, yaitu kacang tanah, biji jagung, dan gabah
5. Produk
pasca panen tersebut dimasukkan didalam kantong plastik transparan ukuran 2
ons, dipisahkan antara produk segar dan kering
6. Diberi
label ditiap kantong plastik
7.
Produk disimpan didalam
laboratorium selama 5 hari, dan diamati perubahannya
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pengamatan
a) Warna
Produk dan Kadar Air
|
No
|
Jenis
Produk
|
Warna
|
Kadar
Air %
|
|
|
Segar
|
|
|
|
1
|
Jagung
|
Kuning
|
31,8%
|
|
2
|
Gabah
|
Cokelat
|
26,5%
|
|
3
|
Kacang
|
Cokelat
|
21,6%
|
|
|
Kering
|
|
|
|
1
|
Jagung
|
Kuning
|
12,2%
|
|
2
|
Gabah
|
Cokelat
|
12,7%
|
|
3
|
Kacang
|
Cokelat
|
13,2%
|
b) Grafik
Kadar Air Produk

Pengamatan Selama
5 Hari
|
No
|
Tanggal
|
Indikator
|
Hasil
|
|||||
|
Jagung
|
Gabah
|
Kacang
|
||||||
|
B
|
K
|
B
|
K
|
B
|
K
|
|||
|
1
|
23/03/2012
|
Warna
|
-1
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
|
|
|
Bentuk
|
-1
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
|
|
|
Penampilan
|
-1
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
|
|
|
Kontaminasi
|
-1
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
|
|
|
Bau
|
-1
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
|
2
|
24/03/2012
|
Warna
|
-2
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
|
|
|
Bentuk
|
-2
|
0
|
0
|
0
|
-2
|
0
|
|
|
|
Penampilan
|
-2
|
0
|
0
|
0
|
-2
|
0
|
|
|
|
Kontaminasi
|
-2
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
|
|
|
Bau
|
-1
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
|
3
|
25/03/2012
|
Warna
|
-2
|
0
|
0
|
0
|
-2
|
0
|
|
|
|
Bentuk
|
-3
|
0
|
0
|
0
|
-3
|
0
|
|
|
|
Penampilan
|
-3
|
0
|
0
|
0
|
-3
|
0
|
|
|
|
Kontaminasi
|
-3
|
0
|
0
|
0
|
-2
|
0
|
|
|
|
Bau
|
-2
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
|
4
|
26/03/2012
|
Warna
|
-2
|
0
|
0
|
0
|
-3
|
0
|
|
|
|
Bentuk
|
-4
|
0
|
0
|
0
|
-4
|
0
|
|
|
|
Penampilan
|
-4
|
0
|
0
|
0
|
-4
|
0
|
|
|
|
Kontaminasi
|
-4
|
0
|
0
|
0
|
-3
|
0
|
|
|
|
Bau
|
-3
|
0
|
0
|
0
|
-2
|
0
|
|
5
|
27/03/2012
|
Warna
|
-4
|
0
|
0
|
0
|
-3
|
0
|
|
|
|
Bentuk
|
-5
|
0
|
0
|
0
|
-5
|
0
|
|
|
|
Penampilan
|
-5
|
0
|
0
|
0
|
-5
|
0
|
|
|
|
Kontaminasi
|
-5
|
0
|
0
|
0
|
-4
|
0
|
|
|
|
Bau
|
-4
|
0
|
0
|
0
|
-3
|
0
|
B. Pembahasan
Tujuan
pengeringan adalah untuk mengurangi kadar air sampai batas perkembangan
mikroorganisme dan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau
terhenti. Dengan demikian bahan yang dikeringkan dapat mempunyai waktu simpan
yang lama (Winarno, 1980).
Pengeringan
yang biasa dilakukan yaitu dengan dua cara: pengeringan dengan sinar matahari
dan pengeringan dengan udara atau uap panas. Pengeringan dengan sinar matahari
lebih dikenal sebagai pengeringan tradisional dan telah umum dilakukan oleh
para petani sejak dahulu. Pengeringan dengan sinar matahari biasanya
menghasilkan mutu yang baik, asalkan cara-cara pengeringan yang dianjurkan
diikuti dengan seksama, antara lain:
a. Penghamparan
hasil tanaman diatas lantai bersemen atau beralaskan plastik yang lebar atau
anyaman bambu, pada tempat tanpa halangan bagi penerimaan sinar dan inipun
harus memperhatikan terlebih dahulu situasinya cerah atau ada tanda-tanda
kemendungan.
b. Penggantungan
hasil-hasil tanaman yang akan dikeringkan dengan sinar matahari pada
jemuran-jemuran atau rak-rak yang tersedia, dengan pengontrolan yang teratur
agar batas kering yang dipersyaratkan tidak terlampaui, sebab terlampau
keringpun dapat menimbulkan kerusakan, misalnya daun tembakau (Kartasapoetra,
1994).
Keuntungan
pengeringan adalah
a. Bahan
menjadi lebih tahan lama dismpan
b. Volume
bahan menjadi lebih kecil
c. Mempermudah
dan menghemat ruang pengangkutan
d. Mempermudah
transport
e. Biaya
produksi menjadi lebih murah
Perbedaan
yang kecil dari kelembaban nisbi udara (RH) di dalam ruangan tempat penyimpanan
bahan pangan atau di dalam peti pengepakan dapat menyebabkan perbedaan yang
besar dalam perkembangan bakteri. Pada suhu di ruang pendinginan, kelembaban
yang lebih tinggi akan makin mamperbanyak jumlah populasi mikroba.
Prinsip
pengeringan akan melibatkan dua kejadian, yaitu:
a. Panas
harus diberikan pada bahan
b.
Air harus dikeluarkan
dari bahan
Prinsip
pengawetan makanan dengan cara pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan (aw)
sehingga tidak memungkinkan lagi mikroba melakukan aktifitas.
Mekanisme keluarnya air dari dalam bahan
selama pengeringan adalah:
a.
Air bergerak melalui
tekanan kapiler
b. Penarikan
air disebabkan oleh perbedaan konsentrasi larutan disetiap bahan
c. Penarikan
air dipermukaan bahan disebabkan oleh absorbsi dari lapisan-lapisan permukaan
komponen padatan dari bahan
d. Perpindahan
air dari bahan ke udara disebabkan oleh perbedaan tekanan uap (Syamsir, 2008).
Faktor-faktor yang berpengaruh dalam
kecepatan pengeringan, yaitu:
a.
Luas Permukaan
Untuk
mempercepat pengeringan biasanya bahan dipotong kecil-kecil, hal ini
dikarenakan:
1) Pemotongan
akan memperluas permukaan bahan dan permukaan yang luas akan berhubungan dengan
medium pemanasan sehingga mudah keluar
2) Potongan
kecil yang tipis mengurangi jarak dimana panas harus bergerak sampai kepusat
bahan pangan
b. Perbedaan
suhu dan udara disekitarnya
Semakin
besar perbedaan suhu anatara medium pemanas dengan bahan pangan makin cepat
pemindahan panas kedalam bahan dan makin cepat pula penghilangan air dari
bahan.
c. Kecepatan
aliran udara
Udara
yang bergerak dan mempunyai gerakan yang tinggi selain dapat mengambil uap air
tersebut dari permukaan bahan pangan, sehingga akan mencegah terjadinya
atmodfer jenuh yang akan memperlambat penghilangan air.
d. Tekanan
udara
Semakin
kecil tekanan udara akan semakin besar kemampuan udara untuk mengangkut air
selama pengeringan, karena dengan semakin kecilnya tekanan berarti kerapatan
udara makin berkurang sehingga uap air dapat lebih banyak tertampung dan
disingkirkan dari bahan pangan. Sebaliknya bila tekanan udara makin besar maka
udara disekitar pengeringan akan lembab, sehingga kemampuan menampung uap air
terbatas dan menhambat proses atau laju pengeringan.
Hasil pengamatan yang telah dilakukan
selama lima hari mendapatkan simpulan, antara lain:
1.
Pada gabah kering dan
basah tidak ada suatu perubahan apapun untuk warna, bentuk, penampilan,
kontaminasi, maupun baunya. Untuk gabah basah tidak mengalami perubahan apapun
hal ini dimungkinkan karena jumlah gabah yang masih dalam kategori sedikit,
jika jumlah gabah basah dalam suatu penyimpanan jumlahnya banyak berton-ton
adanya suatu perubahan bau dan kontaminasi sangat besar adanya.
2. Pada
jagung kering tidak ditemukan suatu perubahan pada warna, bentuk, penampilan,
kontaminasi, maupun baunya. Sedangkan pada jagung basah terjadi perubahan,
semakin lama jagung tersebut disimpan maka semakin besar pula perubahannya.
3.
Pada kacang kering
tidak ditemukan suatu perubahan. Sedangkan pada kacang basah ditemukan
perubahan-perubahannya dari warna, bentuk, penampilan, kontaminasi, maupun
baunya. Semakin lama kacang basah disimpan maka semakin besar pula perubahan
yang terjadi (Rohanah, 2011).
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Tujuan
pengeringan adalah untuk mengurangi kadar air sampai batas perkembangan
mikroorganisme dan enzim yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau
terhenti.
2. Pada
gabah kering dan basah tidak ada suatu perubahan apapun untuk warna, bentuk,
penampilan, kontaminasi, maupun baunya. Jagung kering tidak ditemukan suatu
perubahan pada warna, bentuk, penampilan, kontaminasi, maupun baunya. Sedangkan
pada jagung basah terjadi perubahan. Pada kacang kering tidak ditemukan suatu
perubahan. Sedangkan pada kacang basah ditemukan perubahan-perubahannya dari
warna, bentuk, penampilan, kontaminasi, maupun baunya.
3. Daya
simpan yang lebih tahan lama yaitu komoditas yang telah dilakukan pengeringan.
B. Saran
Penanganan pasca panen
ini perlu mendapat perhatian khusus dan sangat hati-hati agar komoditas
tersebut tetap tinggi mutu dan harga jualnya di pasar.
DAFTAR PUSTAKA
Heddy, S. 1994. Pengantar Produksi Tanaman dan Penanganan
Pasca Panen. Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Kartasapoetra,
A.G. 1994. Teknologi Penanganan Pasca
Panen. Rineka Cipta, Jakarta.
Mahadi. 2007. Model Sistem dan Analisa Pengeringan Produk
Makanan. Usu Repository.
Rohanah, A., dan
Saipul B.D. 20011. Teknik pengeringan. (On-line). http://ocw.usu.ac.id diakses 8 April 2012.
Syamsir, E. 2008. Prinsip
pengeringan pangan. (On-line). http://id.shvoong.com/exact-sciences/1799733-prinsip-pengeringan-dehidrasi-pangan diakses 8 April 2012.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Proses
menjadi masak dan menjadi tuanya hasil tanaman banyak dihubungkan dengan
timbulnya Etilen, perubahan zat-zat tertentu dan perubahan fisik tanaman.
Etilen adalah suatu senyawa kimia yang mudah menguap, yang dihasilkan selama
proses masaknya hasil tanaman (terutama buah-buahan dan sayuran).
Produksi
Etilen erat hubungannya dengan aktivitas respirasi, sedang yang dimaksud dengan
aktivitas respirasi yaitu banyaknya penggunaan Oksigen pada prosesnya, karena
itu apabila produksi etilen banyak maka biasanya aktivitas respirasi itu
meningkat dengan ditandai oleh meningkatnya penyerapan oksigen oleh tanaman.
Namun demikian pemacu aktivitas respirasi oleh etilen dapat dikatakan mempunyai
sifat yang berbeda pada hasil tanaman klimaterik dan non klimaterik.
B. Tujuan
1. Mengetahui
dapat tidaknya pematangan buah dipacu dengan gas pematangan buah
2. Membandingkan
kecepatan pematangan buah secara alami dan secara dipacu dengan gas pematangan
buah
3.
Membandingkan mutu dari
buah yang dimatangkan secara alami dan secara dipacu
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Etilen sebagai
hormon akan mempercepat terjadinya klimaterik. Biale (1960) telah membuktikan
pada buah advokat yang disimpan di udara biasa akan matang selama 11 hari,
tetapi apabila disimpan dalam udara dengan kandungan etilen 10 ppm selama 24
jam buah advokat tersebut akan matang dalam waktu 6 hari (Winarno, 1979).
Dari penilitian
Burg dan Burg (1962) dapat diketahui bahwa etilen merangsang pemasakan
klimaterik. Sedangkan meurut Winarno (1979) dikatakan bahwa bebuahan non
klimaterik akan mengalami klimaterik setelah ditambah etilen dalam jumlah
besar. Sebagai contoh buah non klimaterik untuk percobaannya adalah jeruk.
Disamping itu pada buah non klimaterik jika ditambahkan etilen beberapa kali akan
terjadi klimaterik yang berulang-ulang.
Oleh Pantastiko
(1975) dikatakan bahwa hilangnya warna hijau pada buah yang sedang mengalami
pemasakan merupakan proses yang sangat rumit. Kemudian dapat diuraikan
kemungkinan terjadinya perubahan warna tersebut dikarenakan terjadinya
pemecahan klorofil sedikit demi sedikit secara enzimatik sehingga zat warna
alami lainnya akan terbuka atau nampak. Perubahan enzimatik klorofil ini
disebabkan adanya aktivitas enzim klorofilase yang akan merubah klorofil
menjadi klorofilid. Enzim ini berada dalam jaringan tanaman sebagai bagian
daripada klorofil lipoprotein komplek.
Pada umumnya
sayuran yang telah dipanen kemudian disimpan, klorofilnya akan mengalami suatu
pemecahan atau degradasi yang menyebabkan perubahan warna sayuran tersebut dari
hijau menjadi kuning yang bersamaan dengan terjadinya kelayuan. Kecepatan
perubahan warna pada sayuran ini dipengaruhi oleh tinggi-rendahnya suhu, lama
penyimpanan dan komposisi udara ruang simpan.
Kriteria untuk
membedakan buah klimaterik dari buah non-klimaterik adalah dengan melihat
reaksinya terhadap penggunaan etilen. Buah non-klimaterik akan bereaksi
terhadap peralkuan etilen pada setiap saat kehidupannya, baik sebelum maupun
sesudah panen. Sedangkan buah klimaterik hanya akan memperlihatkan kenaikan
respirasi bila etilen digunakan selama masa pra-klimaterik, dan menjadi tidak
peka terhadap etilen setelah mencapai klimaterik (Fatkhomi, 2009).
Faktor-faktor
yang mempengaruhi kecepatan respirasi, yaitu:
a.
Faktor Internal
1)
Tingkat
perkembangan
Variasi
dalam kecepatan respirasi akan terjadi selama perkembangan organ. Secara
alamiah bila ukuran komoditi simpanan semakin besar maka jumlah gas karbon
dioksida yang dikeluarkan juga meningkat. Tetapi bila komoditi simpanan
tertumpuk banyak, maka kecepatan respirasi dihitung berdasarkan per unit berat,
akan terus menurun. Bagi buah klimaterik, kecepatannya akan menjadi minimum
pada waktu pendewasaan atau pematangan (maturity) dan cenderung ajeg
meskipun telah dipanen. Namun pada saat tercapai pemasakan (ripening),
respirasi akan meningkat sampai mencapai puncak klimaterik dan setelah itu
menurun secara perlahan.
2)
Komposisi
kimia jaringan
Koefisien
respirasi (RQ) bervariasi menurut jenis substrat yang digunakan (dioksidasi).
Biasanya nilai RQ lebih kecil dari satu bila substratnya asam lemak. Nilai sama
dengan satu bila substrat gula, dan lebih besar dari satu bila substratnya
asam-asam organik. Hal ini akan terjadi pada kondisi alami yang normal.
3)
Ukuran
produk
Kentang
yang ukurannya kecilakan memiliki kecepatan respirasi yang lebih tinggi
dibandingkan dengan kentang yang berukuran besar. Seperti halnya dalam
transpirasi, fenomena luas permukaan memegang peranan. Jaringan yang berukuran
kecil mempunyai luas permukaan yang lebih besar yang berhubungan dengan oksigen
sehingga memudahkan oksigen untuk berdifusi ke dalamnya.
4)
Lapisan
alami
Komoditas
yang memiliki lapisan kulit yang baik akan memperlihatkan kecepatan respirasi
yang rendah, karena oksigen lebih sulit untuk berdifusi ke dalam jaringan.
5)
Jenis
jaringan
Jaringan
muda yang aktif bermetabolisme akan menunjukkan aktivitas respirasi yang lebih
besar dibandingkan dengan organ yang dorman. Respirasi juga bervariasi di dalam
organ. Sebagai contoh, aktivitas respirasi pada buah mangga akan berbeda antara
kulit buah, daging buah, dan biji.
b.
Faktor
Eksternal
1)
Suhu
Pada
suhu antara antara 0-35 0C kecepatan respirasi buah dan sayuran akan
meningkat sampai dua setengah kalinya untuk tiap kenaikan suhu sebesar 100C.
2)
Etilen
Penggunaan
gas etilen sangat mempengaruhi wantu pencapaian puncak klimaterik. Pada buah
klimaterik, etilen hanya bereaksi untuk memindahkan waktu klimaterik, tetapi
tidak berpengaruh terhadap bentuk kurva respirasi dan tidak menyebabkan
perubahan komponen-komponen utama buah.
3)
Ketersediaan
oksigen
Kecepatan
respirasi pada komoditi panenan akan meningkat dengan meningkatnya pasokan
oksigen. Namun bila konsentrasi oksigen lebih besar dari 20%, pengaruhnya
hampir tidak nampak pada respirasi. Bilamana konsentrasi oksigen dikurangi
sampai lebih rendah dari konsentrasi di udara, maka kecepatan respirasi akan
menurun.
4)
Karbondioksida
Konsentrasi
gas karbondioksida yang cukup tinggi dapat memperpanjang masa simpan komoditi
sayuran dengan cara menghambat proses respirasi. Pengurangan kecepatan respirasi
sebanyak 50% terjadi pada buah pisang yang ditempatkan pada ruang simpang
berkonsentrasi karbondioksida cuklup tinggi.
5)
Senyawa
(zat) pengatur tumbuh
Beberapa
senyawa pengatur tumbuh seperti Malic Hidrazid (MH) dapat mempercepat atau
menghambat respirasi. Pengaruh senyawa ini sangat bervariasi menurut jenis
jaringan dan waktu penggunaan serta kemudahan terserap oleh jaringan
6)
Luka
(kerusakan fisik)
Tergantung
pada jenis buah dan tingkat kerusakan yang dialami menentukan laju respirasi
(Wills, 1989)
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat
1. Ember
plastik bertutup
2. Kain
3. Kertas
koran
4. Karet
gelang
5. Kertas
label
B. Bahan
1. Buah
pisang mentah dan matang
2. Kalsium
Karbida (Karbit)
C. Prosedur
kerja
1. Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan
2. Disetiap
ember diberi label dengan tulisan PA (Pematangan Alami), PK (Pematangan dengan
Karbit), dan PPM (Pematangan dengan Pisang Matang)
3. Setiap
ember dimasukkan koran sebagai alas untuk meletakkan pisang
4. Karbit
ditimbang sekitar 1 ons, kemudian dimasukkan kedalam kain
5. Karbit
diletakkan pada ember yang berlabel PK, kemudian pisang dimasukkan kedalam
ember tersebut
6. Diletakkan
pisang matang pada ember yang berlabel PPM, kemudian diletakkan pula pisang
yang masih mentah
7. Tutup
semua perlakuan dengan kertas koran, kemudian tutup ember dengan penutup ember
8.
Dilakukan pengamatan
selama 5 hari
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pengamatan
|
No
|
Tanggal
|
PA
|
PPM
|
PK
|
|||||||||
|
W
|
K
|
T
|
R
|
W
|
K
|
T
|
R
|
W
|
K
|
T
|
R
|
||
|
1
|
23/03/2012
|
+1
|
+1
|
0
|
0
|
+1
|
+1
|
0
|
0
|
+1
|
+1
|
0
|
0
|
|
2
|
24/03/2012
|
+2
|
+2
|
0
|
0
|
+2
|
+2
|
0
|
0
|
+2
|
+3
|
0
|
0
|
|
3
|
25/03/2012
|
+3
|
+3
|
0
|
0
|
+3
|
+4
|
0
|
0
|
+3
|
+5
|
0
|
0
|
|
4
|
26/03/2012
|
+4
|
+4
|
+4
|
+4
|
+4
|
+4
|
+4
|
+3
|
+4
|
+5
|
+4
|
+2
|
|
5
|
27/03/2012
|
+5
|
+5
|
+5
|
+5
|
+5
|
+5
|
+5
|
+5
|
+5
|
+5
|
+5
|
+1
|
Keterangan :
PK => Pisang matang
dihari kedua
PA => Pisang matang
dihari ketiga
PPM => Pisang matang
dihari ketiga
v Kecepatan
pematangan paling cepat yang diberi perlakuan karbit, karen dihari kedua pisang
telah masak seluruhnya dan warna kulitnya berwarna kuning seluruhnya.
v Tekstur
paling lembek pisang yang diberi perlakuan karbit, karena matang terlebih dahulu.
v Rasa
yang paling enak sampai hari kelima dengan pematangan alami, dan pisang yang
diberi perlakuan PPM. Pisang yang diberi perlakuan karbit makin matang, rasa
semakin pahit.
B. Pembahasan
Etilen
adalah suatu gas yang dapat digolongkan sebagai zat pengatur pertumbuhan yang
aktif dalam pematangan. Dapat disebut hormon karena telah memenuhi persyartan
sebagai hormon yaitu dihasilkan oleh tanaman, bersifat mobil dalam jaringan
tanaman dan merupakan senyawa organik. Seperti hormon lainnya etilen berpengaruh
pula dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Etlen merupakan senyawa yang
larut di dalam lemak sedangkan mebran dari sel terdiri dari senyawa lemak. Oleh
karena itu etilen dapat larut dan menembus ke dalam membran mitokondria.
Apabila mitokondria pada fase pra klimaterik diekstraksi kemudian ditambah
etilen, ternyata terjadi pengembangan volume yang akan meningkatkan
permeabilitas sel sehingga bahan-bahan dari luar mitokondria akan dapat masuk.
Dengan perubahan-perubahan permeabilitas sel akan memungkinkan interaksi yang
lebih besar antara substrat buah dan enzim pematangan.
Aplikasi
C2H2 (etilen) pada bebuahan klimaterik, makin besar
konsentrasi C2H2 sampai tingkat kritis makin cepat
stimulasi respirasinya. Etilen tersebut bekerja paling efektif pada waktu tahap
klimaterik, sedangkan penggunaan C2H2 pada tahap post
klimaterik tidak merubah laju respirasi. Produksi etilen juga dipengaruhi oleh
suhu dan oksigen. Suhu rendah maupun suhu tinggi dapat menekan produksi etilen.
Pada kadar oksigen dibawah sekitar 2% tidak terbentuk etilen kerena oksigen
sangat diperlukan. Oleh karena itu suhu rendah dan oksigen rendah dipergunakan
dalam praktik penyimpanan bebuahan, karena dapat memperpanjang daya simpan dari
bebuahan tersebut.
Karbit
atau Kalsium karbida adalah senyawa kimia
dengan rumus kimia CaC2. Karbit digunakan untuk mempercepat
pematangan buah. Persamaan reaksi
Kalsium Karbida dengan air adalah
Cara
untuk mempercepat pematangan biasanya bahan pengemas yang digunakan mengandung
kalsium karbida, sehingga ketika kalsium karbida terkena kelembaban, akan
menghasilkan gas asetilen (yang sifatnya mirip gas etilen) sehingga dapat
mempercepat pematangan buah (Hadi, 2011).
Proses pematangan buah didahului dengan
klimaterik. Klimaterik dapat didefinisikan sebagai suatu periode mendadak yang
unik bagi buah dimana selama proses terjadi serangkaian perubahan biologis yang
diawali dengan proses sintesis etilen. Meningkatnya respirasi dipengaruhi oleh
jumlah etilen yang dihasilkan, meningkatnya sintesis protein dan RNA. Proses
klimaterik pada apel diperkirakan karena adanya perubahan permeabilitas pada
selnya yang menyebabkan enzim dan substrat dalam keadaan normal terpisah, akan
bergabung dan bereaksi satu dengan lainnya.
Perubahan warna dapat terjadi baik oleh
proses-proses perombakan maupun proses sintetik atau keduanya. Pada pisang
warna kuning terjadi karena hilangnya klorofil tanpa adanya atau sedikit
pembentukan zat karotenoid. Menjadi lunaknya buah disebabkan oleh perombakan
propektin yang tidak larut menjadi pektin yang larut, atau hidrolisis zat pati
atau lemak. Perubahan komponen-komponen buah diatur oleh enzim-enzim antara
lain enzim hidroltik, poligalakturokinase, metil asetat, selulose.
Flavour adalah suatu yang halus dan
rumit yang ditangkap indera merupakan kombinasi rasa, bau, dan terasanya di
lidah. Pematangan biasanya peningkatan gula-gula sederhana yang memberi rasa
manis, penurunan asam organik, dan senyawa-senyawa fenolik yang mengurangi rasa
sepet dan masam dan kenaikan zat-zat atsiri yang memberikan flavour khas pada
buah.
Proses sintesis protein terjadi pada
proses pematangan seacra alami atau hormonal, dimana protein disintesis secepat
dalam proses pematangan. Pematangan buah dan sintesis protein terhambat oleh
siklohexamin pada permulaan fase klimatoris setelah siklohexamin hilang, maka
sintesis etilen tidak mengalami hambatan. Sintesis ribonukleat juga diperlukan
dalam proses pematangan. Etilen akan mempertinggi sintesis RNA. Etilen dapat
juga terbentuk karena adanya aktivitas auksin dan etilen mampu menghilangkan
aktivitas auksin karena etilen dapat merusak polaritas sel transport, pada
kondisi anearob pembentukan etilen terhambat, selain suhu O2 juga
berpengaruh pada pembentukan etilen. Laju pembentukan etilen semakin menurun
pada suhu di atas 30 0C dan berhenti pada suhu 40 0C,
sehingga pada penyimpanan buah secara masal dengan kondisi anaerob akan
merangsang pembentukan etilen oleh buah tersebut. Etilen yang diproduksi oleh
setiap buah memberi efek komulatif dan merangsang buah lain untuk matang lebih
cepat.
Buah berdasarkan kandungan amilumnya,
dibedakan menjadi buah klimaterik dan buah nonklimaterik. Buah klimaterik
adalah buah yang banyak mengandung amilum, seperti pisang, mangga, apel dan
alpokat yang dapat dipacu kematangannya dengan etilen. Etilen endogen yang
dihasilkan oleh buah yang telah matang dengan sendirinya dapat memacu
pematangan pada sekumpulan buah yang diperam. Buah nonklimaterik adalah buah
yang kandungan amilumnya sedikit, seperti jeruk, anggur, semangka dan nanas.
Pemberian etilen pada jenis buah ini dapat memacu laju respirasi, tetapi tidak
dapat memacu produksi etilen endogen dan pematangan buah.
Kalsium karbit bila terkena air atau uap
air akan menghasilkan gas asetilin. Gas ini dalam struktur kimia serupa dengan
etilen alami, karena dipenuhi dengan gas asetilin buah akan berfermentasi serentak
menjadi matang. Apabila buah kurang matang akan tidak semanis yang matang,
karena kandungan Karbohidrat – zat patinya masih kurang. Gas asetilin karena
ringan akan terbang dan tercampur dengan udara.
Dari hasil pengamatan yang telah
dilakukan selama lima hari, pisang yang diberi perlakuan dengan memakai karbit
masak lebih cepat dari pada pisang yang diberi perlakuan alami ataupun pisang
yang diletakkan secara bersamaan dengan pisang matang. Pada rasa lebih enak
pisang yang diberi perlakuan secara alami dan pisang yang diberi perlakuan dengan
pisang matang, sementara pisang yang diberi perlakuan karbit semakin pisang
masak semakin pahit rasa yang ditimbulkannya. Pada tekstur ketiganya sama-sama
makin halus ketika telah masak.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Etilen
adalah suatu gas yang dapat digolongkan sebagai zat pengatur pertumbuhan yang
aktif dalam pematangan.
2. Pematangan
buah secara alami akan lebih lama, dibandingkan dengan buah yang diberi
perlakuan menggunakan karbit dalam proses pematangannya. Tetapi pada buah yang
diberi perlakuan karbit, buah tersebut akan cepat membusuk, dibandingkan buah
yang masak secara alami.
3.
Pada buah yang masak
secara alami rasanya lebih enak dibandingkan buah yang telah masak tetapi
proses pemasakannya menggunakan karbit.
B. Saran
Saat melakukan pengeraman
buah menggunakan karbit sebaiknya jangan terlalu masak benar, karena rasa buah
yang akan ditimbulkan akan pahit.
DAFTAR PUSTAKA
Fatkhomi,
F. 2009. Pemasakan buah. (On-line). http://wordbiology.wordpress.com diakses
8 April 2012.
Hadi,
D. K. 2011. Mekanisme Karbit dalam proses Pematangan Buah. (On-line). http://danang-kurang-kerjaan.blogspot.com
diakses 8 April 2012.
Isbandi,
J. 1983. Pertumbuhan dan Perkembangan
Tanaman. Fakultas Pertanian UGM, Yogyakarta.
Kamarani.
1986. Fisiologi Pasca panen. Gadjah
Mada University Press, Yogykarta.
Phan,
C.T., Er.B. Pantastico, K. Ogata, and K. Chacin. 1975. Respiration – In Pantastoco,
Er.B. (Ed). Postharvest Physiology,
Handling, and Utilization of Tropical and Sub Tropical Fruits and Vegetables.
The Avi Publishing Company. Inc., Connecticut.
Wills,
R.B.H., Mc.Glasson, W.B., Graham, D., Lee T.H., and Hall, E.G. 1989. Posthavest- An Introduction to The
Physiology and Handling of Fruits and Vegetables. An Avi Book, Van Nostrand
Reinhold, New York.
Winarno,
F.G., dan M. Aman. 1979. Fisiologi Lepas
Panen. Sustra Hudaya, Bogor.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Pemanenan
dan penanganan perlu dilakukan dengan hati-hati untuk dapat mempertahankan mutu
bebuahan dan sesayuran. Pemanenan yang keliru dan penanganan yang kasar di
kebun dapat mempengaruhi mutu pemasaran secara langsung. Memar dan luka-luka
dikemudian hari akan tampak sebagai bercak-bercak berwarna perang dan hitam
yang membuat barang dagangan menjadi tidak menarik. Beberapa gangguan fisiologi
merupakan akibat penanganan yang kasar. Luka-luka pada kulit merupakan pintu
masuk jasad-jasad renik dan mengakibatkan cukup banyak buah-buahan dan
sayur-sayuran menjadi mubazir.
Manfaat
kemasan antara lain:
1) Untuk
menghindari kontaminasi mikroorganisme
2) Untuk
mengurangi kontak dengan udara
3) Untuk
menjaga kesegaran
4)
Untuk merangsang minat
konsumen
B. Tujuan
1. Agar
mahasiswa dapat membedakan komoditas yang dikemas maupun yang tidak dikemas
dari segi masa kesegaran, estetika, dan ekonomis
2.
Agar mahasiswa dapat
mendemonstrasikan proses pengemasan suatu komoditas
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Teknologi
pascapanen merupakan suatu perangkat yang digunakan dalam upaya peningkatan
kualitas penanganan dengan tujuan mengurangi susut karena penurunan mutu produk
yang melibatkan proses fisiologi normal dan atau respon terhadap kondisi yang
tidak cocok akibat perubahan lingkungan secara fisik, kimia, dan biologis.
Teknologi pascapanen diperlukan untuk menurunkan atau bila mungkin
menghilangkan susut pascapanen. Susut pascapanen produk hortikultura berkisar
antara 15% hingga 25% tergantung pada jenis produk dan teknologi pascapanen
yang digunakan.
Permasalahan
yang masih banyak dijumpai dalam penaganan pascapanen produk hortikultura
antara lain:
1. Masing-masing
daerah sentra produksi tidak mempunyai jadwal panen untuk saling mengisi,
sehingga produk seringkali membanjiri pasar pada saat yang bersamaan sehingga
harga jatuh (terutama terjadi pada buah musiman).
2. Panen
tidak dilakukan pada waktu yang tepat sesuai dengan kondisi produk, tetapi
lebih dipicu oleh harga yang berfluktuasi sehingga produk adakalanya belum
mencapai kondisi optimum (misalnya buah yang masih terasa masam meskipun sudah
masak), atau malah lewat kondisi optimum akibat penundaan sehingga mudah
membusuk.
3. Penanganan
dilakukan dengan kasar, bahkan dilempar, ditekan terlalu keras saat pengemasan,
dan lain sebaginya (Usman, 2012).
Pada penyimpanan
produk hortikultura segar yang perlu pula dicermati adalah adanya gas etilen
yang mempercepat proses pelayuan. Etilen adalah senyawa organik hidrokarbon
paling sederhana (C2H4), secara alami dihasilkan oleh
aktivitas metabolisme buah dan sayuran. Gas ini dapat pula dihasilkan dari
pembakaran minyak kendaraan bermotor. Secara fisiologis etilen sangat aktif
dalam konsentrasi sangat rendah (part per billion). Laju produksi etilen oleh
buah dan sayuran beragam. Bila produk dengan laju produksi etilennya tinggi
ditempatkan satu ruangan dengan produk yang laju produksi etilennya rendah maka
akan mempercepat penuaan atau pelayuan produk.
Pengendalian terhadap luka-luka akibat proses merupakan kunci untuk
menghasilkan produk dengan mutu yang baik. Pengaruh memar dan luka akibat
proses terhadap respon fisiologis dapat dikurangi dengan mendinginkan produk
sebelum proses. Pengendalian suhu yang ketat setelah proses juga dapat
menurunkan aktivitas metabolisme akibat perlukaan selama proses. Ketajaman pisau
yang digunakan pada pemotongan produk juga berpengaruh terhadap aktivitas
metabolisme produk setelah dipotong-potong (Antara, 2007).
Cara yang paling
baik untuk memperlambat kemunduran mutu akibat aktivitas metabolisme dan
kerusakan lainnya adalah dengan mendinginkan produk sampai pada batas minimum
suhu dingin dimana produk tersebut tidak mengalami kerusakan (chilling injury).
Perlu diketahui bahwa kepekaan produk segar terhadap derajat rendahnya suhu
adalah berbeda-beda. Kebanyakan buah-buahan tropika yang disimpan di bawah suhu
10oC sangat sensitif terhadap kerusakan dingin, sedangkan sayuran
daun umumnya toleran terhadap suhu rendah sehingga sering disimpan sampai
mendekati suhu 0oC.
Penyimpan produk
segar di dalam kamar berpendingin membutuhkan pengaturan penempatan yang
memungkinkan adanya sirkulasi udara antar tumpukan bahan dengan baik. Kamar
penyimpanan dingin tidak dirancang untuk mendinginkan produk buah dan sayuran
namun untuk mempertahankan suhu produk yang telah didinginkan sebelumnya. Untuk
itu pendinginan cepat sebaiknya dilakukan sebelum produk tersebut disimpan
dalam ruang berpendingin. Tujuan dari pendinginan cepat adalah untuk
menghilangkan panas lapang yang tersimpan di dalam produk akibat sengatan
matahari bersama panas yang dihasilkan dari aktivitas respirasi.
Prosedur
penyimpanan perlu mendapat perhatian. Produk yang keringkihannya tinggi
disimpan lebih awal, sedangkan produk baru atau produk belum masak ditempatkan
di belakang produk yang sudah lama dan sedang mengalami pemasakan. Penempatannya
diatur sedemikian rupa sehingga memudahkan pekerja mengakses produk atau
kemasan secara individu. Lakukan rotasi stok dengan sistem first in first out
(FIFO), dan identitas serta label produk harus terlihat jelas untuk memudahkan
melakukan rotasi tersebut (Utama, 2011).
Pengemasan
merupakan sistem
yang terkoordinasi untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk
ditransportasikan, didistribusikan, disimpan, dijual, dan dipakai. Adanya wadah
atau pembungkus dapat membantu mencegah atau mengurangi kerusakan, melindungi produk yang ada di dalamnya, melindungi
dari bahaya pencemaran serta gangguan fisik (gesekan, benturan, getaran). Di
samping itu pengemasan berfungsi untuk menempatkan suatu hasil pengolahan atau
produk industri agar mempunyai bentuk-bentuk yang memudahkan dalam penyimpanan,
pengangkutan dan distribusi.
Dari segi promosi wadah atau pembungkus berfungsi sebagai perangsang atau daya
tarik pembeli. Karena itu bentuk, warna dan dekorasi dari kemasan perlu
diperhatikan dalam perencanaannya.
Manfaat
pengemasan, antara lain:
1. Kemampuan
melindungi isinya dari berbagai resiko dari luar, misalnya perlindungan dari
udara panas/dingin, sinar/cahaya matahari, bau asing, benturan/tekanan mekanis,
kontaminasi mikroorganisme.
2. Kemampuan
sebagai daya tarik terhadap konsumen. Dalam hal ini identifikasi, informasi dan
penampilan seperti bentuk, warna dan keindahan bahan kemasan harus mendapatkan
perhatian.
3. Persyaratan
ekonomi, artinya kemampuan dalam memenuhi keinginan pasar, sasaran masyarakat
dan tempat tujuan pemesan.
4. Mempunyai
ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan norma atau standar yang ada, mudah
dibuang, dan mudah dibentuk atau dicetak (Sitanggang, 2012).
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat
1. Styrofoam
piring
2. Nampan
3. Plastik
stretch film
B. Bahan
1. Wortel
2. Caisin
3. Solusi
ppm 100 Klorin dan 200 ppm
4.
Kalsium Klorida (CaCl2)
300 ppm dan 0,75%
C. Prosedur
Kerja
1. Sayuran
dibersihkan didalam larutan Klorin (200ppm) selama 20-30 detik
2. Ditiriskan
bahan selama 30 detik
3. Sayuran
direndam di larutan Klorida yang mengandung Kalsium (300ppm) selama 15-30 detik
4. Redrain
sayuran selama 30 detik
5. Redrain
sayuran sekali lagi di Klorida Kalsium (0,75%) selama 5-10 detik
6. Redrain
selama 30 detik
7.
Diangkat dan sayuran
diatur diatas piring Styrofoam dan ditutup dengan plastik stretch film/plastik
pembungkus
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pengamatan
|
No
|
Produk
|
Indikator
|
Dikemas
|
Tidak
Dikemas
|
||||
|
1
|
2
|
3
|
1
|
2
|
3
|
|||
|
1
|
Wortel
|
Warna
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
-1
|
-2
|
|
Kesgaran
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
-2
|
-3
|
||
|
Kontaminasi
|
0
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
-2
|
||
|
2
|
Caisin
|
Warna
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
-1
|
-2
|
|
Kesegaran
|
0
|
0
|
-1
|
-1
|
-2
|
-3
|
||
|
kontaminasi
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
-1
|
-3
|
||
Keterangan :
1.
Wortel
Kemasan
·
Warna dan kesegaran
tidak berubah sampai hari ketiga pengamatan.
·
Kontaminasi tidak ada.
2. Wortel Tak Dikemas
·
Warna pada hari pertama
-1 menunjukkan adanya perubahan warna sedikit dan hari kedua masih tetap.
Sedangkan hari ketiga pengamatan warna semakin berubah ,enjadi orange lebih
pucat.
·
Kesegaran pada hari
pertama mulai berkurang, hari kedua makin tidak segar, dan hari ketiga makin
layu.
·
Kontaminasi pada hari
pertama belum ada, hari kedua telah menampakkan terjadi kontaminasi, dan hari
ketiga makin banyak.
3. Caisin Kemasan
·
Warna dan kesegaran
hari pertama dan kedua tetap, tetapi hari ketiga warna berubah dan kesegaran
menurun. Kontaminasipun telah namapak dihari ketiga.
4. Caisin Tak Dikemas
Warna
dan kesegaran makin menurun. Kontaminasi makin banyak.
B. Pembahasan
Pengemasan
yaitu proses perlindungan komoditi dari gangguan faktor luar yang dapat
mempengaruhi masa simpan komoditi dengan memakai media (bahan) tertentu. Bahan
kemasan harus disesuaikan denan sifat khusus produk, seperti kardus/box, peti,
keranjang bambu, kotak kayu, jaring/net, kantong plastik, keranjang plastik
dll.
Pengemasan
bertujuan untuk melindungi mutu produk dari kerusakan mekanis, fisik dan
fisiologi pada saat handling, pengangkutan dan bongkar muatan. Kemasan yang
ideal harus kuat, memiliki daya lindung yang tinggi terhadap kerusakan, mudah
di-handle, aman dan ekonomis. Wadah kemasan dapat dibuat secara tradisional
berupa keranjang bambu atau rotan, karung plastik polietilen dan kardus
berventilasi.
Produk pasca panen perlu dikemas
bertujuan:
a.
Menghambat bobot berat
akibat transpirasi
b. Meningkatkan
citra produk
c. Menghindari
kerusakan pada saat pengangkutan
d. Sebagai
alat promosi
e. Melindungi
isinya dari debu, kotoran, maupun serangga sehingga tidak lekas membusuk
f.
Memudahkan barang untuk
disimpan,dihitung atau diatur bila dijual (Nlailaf, 2011).
Manfaat pengemasan, antara lain:
1.
Kemampuan melindungi
isinya dari berbagai resiko dari luar, misalnya perlindungan dari udara
panas/dingin, sinar/cahaya matahari, bau asing, benturan/tekanan mekanis,
kontaminasi mikroorganisme.
2. Kemampuan
sebagai daya tarik terhadap konsumen. Dalam hal ini identifikasi, informasi dan
penampilan seperti bentuk, warna dan keindahan bahan kemasan harus mendapatkan
perhatian.
3. Persyaratan
ekonomi, artinya kemampuan dalam memenuhi keinginan pasar, sasaran masyarakat
dan tempat tujuan pemesan.
4. Mempunyai
ukuran, bentuk dan bobot yang sesuai dengan norma atau standar yang ada, mudah
dibuang, dan mudah dibentuk atau dicetak (Sitanggang, 2012).
Syarat-syarat pengemasan, antara lain:
a.
Tidak mengandung bahan
kimia
b. Mampu
melindungi produk selama penanganan transportasi dan penumpukan
c. Memenuhi
persyaratan pasar baik bentuk, ukuran, dan berat
d. Kekuatan
pengepakan tidak mempengaruhi kelembaban
e. Harga
disesuaikan dengan produk
f. Mempermudah
penjualan eceran
g. Kemudahan
pembuangan
h. Dapat
digunakan ulang/daur ulang (Effendi, 2010).
Penyimpanan yaitu upaya untuk
memperpanjang masa penggunaan suatu komoditi. Upaya mengendalikan proses
transpirasi, respirasi serta mempertahankan produk dan bentuk yang masih segar
kepada konsumen maupun untuk pengolahan selanjutnya. Penyimpanan harus
memperhatikan sifat produk yang berkaitan dengan daya simpan. Penyimpanan bisa
dilakukan dengan pengendalian suhu sesuai dengan kebutuhan produk.
Produk hortikultura yang telah dilakukan
pemetikan, proses fisiologi tetap berjalan, tergantung pada situasi luar,
seperti temperatur dan kelembaban. Untuk itu proses fisiologi tetap
dipertahankan tetapi lajunya harus dikurangi. Caranya dengan menekan tingkat
respirasi, yaitu mengatur temperatur dan kelembaban udara di sekelilingnya
dengan menempatkan produk dalam ruangan yang sistem udaranya terkendali.
Penyimpanan produk dapat dilakukan
dengan dua cara, yaitu:
a.
Penyimpanan pada suhu
rendah
Penyimpanan
pada suhu rendah dilakukan dengan cara menggunakan ruang pendingin sebgai
tempat penyimpanan.
b. Penyimpanan
pada suhu kamar
Penyimpanan
pada suhu kamar dapat menggunakan penyimpanan dengan memisahkan bahan-bahan
kimia lain yang berbahaya.
Hasil
pengamatan yang telah dilakukan selama tiga hari mendapatkan suatu hasil yaitu
pada wortel yang dikemas tidak ada perubahan pada kesegaran, warna dan
kontaminasi. Tetapi pada wortel yang tidak dikemas pada hari pertama saja sudah
didapatkan penurunan kesegaran dan warna, sementara kontaminasi muncul pada
hari kedua. Caisin yang dikemas pada hari pertama dan kedua tidak ada
perubahan, tetapi pada hari ketiga didapatkan perubahan pada kesegaran, warna,
maupun kontaminasi. Sementara pada caisin yang tidak dikemas perubahan
kesegaran telah muncul pada hari pertama.
Fungsi
CaCl2 yaitu menonaktifkan enzim dan membunuh mikroorganisme dalam
bahan, mempercepat pengeringan, menghilangkan udara dari jaringan bahan serta
mempertahankan karotenoid dan asam askorbat dari kerusakan karena oksidasi
selama pengeringan maupun penyimpanan.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Daya
simpan antara komoditas yang di kemas dan tidak di kemas lebih tahan lama yang
di kemas dan komoditas yang di kemas akan menambah nilai estetika maupun nilai
ekonomisnya untuk menarik minat para konsumen yang ada.
2.
Pengemasan bertujuan
untuk melindungi mutu produk dari kerusakan mekanis, fisik dan fisiologi pada
saat handling, pengangkutan dan bongkar muatan. Kemasan yang ideal harus kuat,
memiliki daya lindung yang tinggi terhadap kerusakan, mudah di-handle, aman dan
ekonomis.
DAFTAR PUSTAKA
Antara,
N.S. 2007. Peningkatan Keuntungan Ritel Produk Hortikultura Segar melalui
Praktek Penanganan Pasca Panen dan Keamanan Pangan yang Baik. Makalah
disampaikan dalam Seminar Nasional, Unud,
Bali, 21 September 2007.
Effendi,
M. 2010. Pengolahan, Pengemasan, dan Penyimpanan Hasil Pertanian. (On-line). http://docs.google.com
diakses 9 April 2012.
Nlailaf.
2011. Tujuan Pengemasan Suatu Produk. (On-line). http://nlailaf.blogspot.com
diakses 9 April 2012.
Sitanggang,
E.H. 2012. Pengemasan Buah Hasil Pasca panen. (On-line). http://erikjonsitanggang.blogspot
diakses 9 April 2012.
Usman, A. 2012. http://web.ipb.ac.id
diakses 9 April 2012.
Utama,
I.M.S. 2011. Ritel Produk Hortikultura. (On-line). http://www.foodreview.biz
diakses 9 April 2012.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Produk
tanaman setelah dipanen secara pasti akan mengalami kemunduran atau degradasi.
Kondisi ini disebabkan terjadinya transpirasi dan respirasi yang terus terjadi.
Proses transpirasi dan respirasi tidak dapat dihentikan, tetapi melalui
berbagai teknik penanganan pasca panen dapat dihambat, sehingga kualitas produk
mampu bertahan. Kualitas komoditas pasca panen dapat dinilai berdasarkan sifat
fisik dan sifat kimia, sedangkan cara penilaian kualitasnya dapat dilakukan
cara visual, cara fisik, cara mekanis, dan cara kimia. Cara visual dilakukan
berdasarkan kemampuan panca indera pengelihatan, cara fisik dan mekanis dinilai
berdasarkan panca indera peraba, dan cara kimia berdasarkan kandungan kimiawi dalam
organ.
Baik
hasil bebuahan maupun sesayuran kalau hendak dijadikan sebagai komiditas
perdagangan antar daerah ataupun ekspor perlu mendapat penanganan yang bauk.
Dengan penanganan yang baik, sampainya komoditas hasil tanaman tersebut ke
pasar atau konsumen tetap akan menarik, terbebas dari kerusakan atau kebusukan,
sehingga transaksi penjualannya berlangsung cepat dengan harga yang
menguntungkan.
B. Tujuan
1. Untuk
menentukan dan membuat grade kualitas awal komoditas setelah panen
2. Untuk
mengetahui perubahan kualitas komoditas pasca panen
3. Untuk
mengidentifikasi kualitas komoditas pasca panen
4.
Untuk mengetahui
perlakuan pasca panen yang mampu mempertahankan kualitas
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Penanganan pasca
panen hasil pertanian bertujuan untuk mengurangi kehilangan hasil, menekan
tingkat kerusakan hasil panen, meningkatkan daya simpan dan daya guna komoditas
pertanian agar dapat menunjang usaha penyediaan bahan baku industri dalam
negeri, meningkatkan nilai tambah dan pendapatan, meningkatkan devisa negara,
dan perluasan kesempatan kerja, melestarikan sumberdaya alam dan lingkungan
hidup (Anonim, 1986 ; Grolleaud 2001).
Pasca panen
dalam pengertian sederhananya merupakan suatu rangkaian kegiatan yang dimulai
dari proses pemanenan sampai dengan proses menghasilkan produk setengah jadi
(intermediate). Produk intermediate ini adalah suatu produk yang secara fisik
maupun kandungan kimianya belum mengalami perubahan. Penanganan pasca panen ini
memiliki batasan-batasan tertentu, yaitu pemberian treatment pada produk
pertanian sebelum produk tersebut dikonsumsi secaralangsung, didistribusikan,
ataupun diolah. Dengan demikian pasca panen adalah suatu upaya manusia dalam
mengelola hasil panen pertanian sehingga dapat dipertahankan kondsinya sebelum mendapat
penanganan selanjutnya (Kamil, 2012).
Tujuan
penanganan lepas panen, yaitu:
a. Agar
buah/hasil tanaman yang telah dipungut tetap dalam keadaan baik mutunya atau
tetap segar seperti waktu diambil
b. Agar
hasil tanaman menjadi lebih menarik dalam sifat-sifatnya
c. Agar
hasil tanaman dapat memenuhi standar perdagangan menarik para konsumen individu
atau industri
d. Agar
hasil tanaman selalu dalam keadaan siap dengan mutu yang terjamin untuk
dijadikan bahan baku bagi para konsumen industri yang memerlukannya
(Kartsapoetra, 1994).
Setelah
komoditas dipanen, perlu penanganan pasca panen yang tepat supaya penurunan
kualitas dapat dihambat. Komoditas hortikultura kebanyakan dikonsumsi dalam keadaan segar sehingga perlu
penanganan pasca panen yang ekstra supaya tetap segar, yang dapat dilakukan
setelah pemanenan hanyalah mempertahankan kualitas dalam waktu selama mungkin
bukan meningkatkan kualitas Perlakuan utama dalam pasca panen tujuannya
menghambat laju transpirasi dan respirasi dari komoditas.
Macam penanganan
pasca panen, antara lain:
a. Pendinginan pendahuluan: menurunkan suhu komoditas
menjadi lebih rendah dari suhu di lapangan, sehingga suhu komoditas mendekati
suhu ruang simpan
b. Pencucian: membersihkan komoditas dari kotoran yang
melekat, menghilankan bibit-bibit penyakit yang masih melekat
c. Pengeringan: menghilangkan air yang berlebihan pada
permukaan komoditas
d. Pelapisan dengan lilin: khususnya untuk komoditas
buah, tujuannya: mengurangi suasana aerobik dalam buah, memberikan perlindungan
yang diperlukan terhadap organisme pembusuk
e. Sortasi mutu/grading menurut ukuran
f. Pengepakan/pengemasan
Penanganan pasca
panen umumnya meliputi pekerjaan:
a) Pengkelasan
dan standarisasi
b) Pengemasan
dan pelebelan
c) Penyimpanan
d) Pengangkutan
Pada beberapa komoditas ada yang
diberi perlakuan tambahan antara lain: pemberian bahan kimia, pelilinan, dan
pemeraman (Mutiarawati, 2009)
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat
1. Lemari
pendingin
2. Seeler
atau alat pengepak
3. Pisau
atau gunting
4. Handrefractometer
5. Penetrometer
B. Bahan
1. Buncis
2. Pisang
3. Duku
4.
Plastik stretch film
C. Prosedur
Kerja
1. Disiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan
2. Diukur
kadar kekerasan untuk komoditas duku, pisang, dan buncis
3. Diukur
kadar gula yang terkandung didalam duku, dan pisang
4. Duku,
pisang, dan buncis diletakkan di tiga styrofoam. Salah satu styrofoam dibungkus
dengan menggunakana plastik stretch film dan yang lain tanpa pembungkusan
5. Setelah
itu styrofoam kemasan diletakkan di suhu ruang, dan satu styrofoam yang tak
dikemas juga diletakkan di suhu ruang. Satu styrofoam yang tak dikemas lagi
diletakkan di lemari pendingin
6.
Dilakukan pengamatan
selama 3 hari
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Hasil
Pengamatan
|
No
|
Produk
|
Indikator
|
Suhu
Ruang
|
Kemasan
|
Suhu
Dingin
|
||||||
|
1
|
2
|
3
|
1
|
2
|
3
|
1
|
2
|
3
|
|||
|
1
|
Pisang
|
Warna
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
|
Bentuk
|
0
|
-1
|
-2
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
-1
|
||
|
Kadar
Kekerasan
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
1
|
||
|
Kadar
Gula
|
24
|
24
|
24
|
24
|
24
|
24
|
24
|
24
|
24
|
||
|
2
|
Duku
|
Warna
|
-1
|
-2
|
-3
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
-1
|
-2
|
|
Bentuk
|
-1
|
-2
|
-3
|
0
|
0
|
-1
|
0
|
-1
|
-2
|
||
|
Kadar
Kekerasan
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
4
|
||
|
Kadar
Gula
|
7
|
7
|
7
|
7
|
7
|
7
|
7
|
7
|
7
|
||
|
3
|
Buncis
|
Warna
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
|
Bentuk
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
0
|
||
|
Kadar
Kekerasan
|
5,5
|
5,5
|
5,5
|
5,5
|
5,5
|
5,5
|
5,5
|
5,5
|
5,5
|
||
Keterangan:
0
(Tidak ada perubahan)
-1
(Ada perubahan sedikit)
-2
(Perubahan bertambah)
-3
(Makin banyak perubahannya)
B. Pembahasan
Penanganan
dilakukan untuk tujuan penyimpanan, transportasi dan kemudian pemasaran.
Langkah yang harus dilakukan dalam penanganan setelah dipanen meliputi pemilihan
(sorting), pemisahan berdasarkan umuran (sizing), pemilihan
berdasarkan mutu (grading), dan pengepakan (packing). Namun
demikian, untuk beberapa komoditi tertentu memerlukan tambahan penanganan
seperti pencucian, penggunaan bahan kimia, pelapisan (coating-waxing),
dan pendinginan awal (pre-cooling), serta pengikatan (bunching),
pemotongan bagian-bagian yang tidak penting (trimming).
Penanganan
pasca panen bertujuan agar hasil tanaman tersebut dalam kondisi baik dan
sesuai/tepat untuk dapat segera dikonsumsi atau untuk bahan baku pengolahan.
Prosedur/perlakuan dari penanganan pasca panen berbeda untuk bernagai bidang
kajian antara lain:
a) Penanganan
pasca panen untuk komoditas perkebunan yang ditanam dalam skala luas, bertujuan
menyiapkan hasil tanaman untuk industri pengolahan, perlakuannya bisa pelayuan,
penjemuran, pengupasan, pencucian, fermentasi, dll.
b) Penanganan
pasca panen pada produksi benih bertujuan mendapatkan benih yang baik dan
mempertahankan daya kecambah benih dan vigornya sampai waktu penanaman.
c) Penanganan
pasca panen untuk komoditas pangan bertujuan mempertahankan komoditas yang
telah dipanen dalam kondisi baik serta layak dan tetap enak dikonsumsi.
d) Penanganan
pasca panen untuk komoditas hortikultura bertujuan mempertahankan kondisi segarnya
dan mencegah perubahan-perubahan yang tidak dikehendaki selama penyimpanan.
Refraktometer adalah alat yang digunakan
untuk mengukur bias satu larutan dan juga kadar.
Macam-macam
Refraktometer, yaitu:
1.
Refraktometer Abbe
Dapat
digunakan untuk mengukur bermacam-macam indeks bias suatu larutan dan juga dapat
digunakan untuk mengukur kadar tetapi harus membuat kurva standar. Suatu zat/
larutan kadarnya berbeda maka dapat memberika indeks bias berbeda. Refraktometer
Abbe merupakan alat untuk determinasi secara cepat konsentrasi, kemurnian,
kualitas-kualitas dispersi dari sampel cair, padat dan plastik. Syaratnya : hanya bahan yang jernih,
transparan dan Opaque dapat diukur pada sinar yang ditransmisikan dan
direfleksikan. Refraktometer Abbe mempunyai 2 lubang pengamat, kemudian dicari
garis batas dan perpotongan antara hitam dan putih, kemudian dibaca indeks bias
pada skala.
2. Refraktometer
tangan (Hand Refraktometer)
a. Refraktometer
salt 0 – 28 % 0 – 10 %
b. Refraktometer
Brik 0 – 32 %
Indeks bias sudah dikonversikan hinga dapat
langsung dibaca kadarnya. Hanya untuk mengukur kadar zat tertentu saja dan
terbatasi jika kadar tidak terbaca misalnya : terlalu pekat maka harus di
encerkan. Hasil akhir dikalikan dengan pengenceran. Hand Refraktometer
mempunyai 1 lubang pengamat, kemudian dibaca skala yang ditunjukan batas biru
putih.
Pemeliharaan Refraktometer, antara lain:
a. Refraktometer
Abbe
Setelah dipakai : prisma
dibersihkan sampai kering.
Perlu ditera / kalibrasi
dengan
1) Lar.
Bromonophtalehe yang sudah diketahui indeks biasnya.
2) Prisma
b. Hand
Refraktometer
Setelah dipaka, bagian
prisma dibersihkan sampai kering.
Perlu ditera dengan
aquades, sampai batas biru putih yang menunjukan skala 0 (Analisis Kesehatan 09
Angkatan I, 2010).
Penetrometer adalah alat untuk mengukur
kekerasan. Prinsip kerja dari penetrometer adalah mengukur kedalaman tusukan
dari jarum penetrometer per bobot beban tertentu dalam waktu tertentu (mm/g/s)
(Firdaus, 2009).
Kualitas produk hortikultura setelah
dipanen tidak bisa dinaikkan hanya bisa dipertahankan. Pada saat dipanen
kualitasnya harus maksimal dengan penanganan yang baik supaya dapat
dipertahankan dalam waktu yang lama. Indikator penanda yang dapat digunakan
untuk penentuan waktu panen yang tepat yaitu dengan melihat kenampakan visual,
indikator fisik, analisis kimiawi, indikator fisiologis, dan komputasi.
Perlakuan pasca panen bertujuan untuk menghambat laju transpirasi dan respirasi
dari komoditas.
Kualitas komoditas pasca panen dapat
dinilai berdasarkan sifat fisik dan sifat kimia, sedangkan cara penilaian
kualitasnya dapat dilakukan secara visual, fisik, mekanis, dan kimia.
Pengamatan selama tiga hari didapatkan
hasil yaitu:
1. Buncis
mempunyai kadar kekerasan 5,5 lbs, dan tidak ada perubahan dalam warna, bentuk
selama tiga hari baik itu di suhu ruang, kemasan, ataupun di suhu dingin.
2. Pisang
mempunyai kadar gula 24 brix, dan kadar kekerasan 1 lbs. Pisang uang berada di
kemasan tidak mengalami perubahan warna ataupun bentuk selama tiga hari,
sementara pada suhu dingin pisang mengalami perubahan bentuk dan warna di hari
ketiga, dan pisang yang berada di suhu ruang mengalami perubahan bentuk pada
hari kedua, dan perubahan warna di hari ketiga.
3. Duku
mempunyai kadar kekerasan 4 lbs, dan kadar gula 7 brix. Duku yang berada pada
kemasan mengalami perubahan warna dan bentuk di hari ketiga. Duku yang berada
pada suhu ruang telah mengalami perubahan dari hari pertama, sementara duku
yang berada pada suhu dingin mengalami perubahan warna dan bentuk di hari
kedua.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Penanganan
pasca panen bertujuan agar hasil tanaman tersebut dalam kondisi baik dan
sesuai/tepat untuk dapat segera dikonsumsi atau untuk bahan baku pengolahan.
2. Kualitas
produk hortikultura setelah dipanen tidak bisa dinaikkan hanya bisa
dipertahankan. Pada saat dipanen kualitasnya harus maksimal dengan penanganan
yang baik supaya dapat dipertahankan dalam waktu yang lama.
3. Kualitas
komoditas pasca panen dapat dinilai berdasarkan sifat fisik dan sifat kimia,
sedangkan cara penilaian kualitasnya dapat dilakukan secara visual, fisik,
mekanis, dan kimia.
4. Langkah
yang harus dilakukan dalam penanganan setelah dipanen meliputi pemilihan (sorting),
pemisahan berdasarkan umuran (sizing), pemilihan berdasarkan mutu (grading),
dan pengepakan (packing). Namun demikian, untuk beberapa komoditi
tertentu memerlukan tambahan penanganan seperti pencucian, penggunaan bahan
kimia, pelapisan (coating-waxing), dan pendinginan awal (pre-cooling),
serta pengikatan (bunching), pemotongan bagian-bagian yang tidak penting
(trimming).
B. Saran
Penanganan pasca panen
perlu dilakukan dengan benar untuk tetap menjaga kualitas komoditas tersebut
dan tidak menurunkan daya beli konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Firdaus,
M. 2009. Pengukuran Kekerasan Buah Mangga dan Tomat. (On-line). http://mikolehi.wordpress.com diakses
9 April 2012.
Kartasapoetra,
A.G. 1994. Teknologi Penanganan Pasca
Panen. Rineka Cipta, Jakarta.
Mutiarawati,
T. 2009. Penanganan Pasca Panen Hasil Pertanian. (On-line). https://docs.google.com diakses
9 April 2012.
Surat Keputusan
Presiden Republik Indonesia Nomor 47 Tahun 1986 tentang Peningkatan Penanganan
Pasca Panen Hasil Pertanian. 1986. Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar